Sunday, April 19, 2026

Tugas Cloud Computing Pertemuan 4

Nama : Quinn Abrar Athallah Sentanu
Kelas : 15.6A.11
NIM : 15230637

Soal : 
Sub-Topik 1: Perubahan Paradigma dan Strategi MSDM
1. Cloud computing telah mengubah cara perusahaan mengelola sumber daya manusia, termasuk pergeseran dari sistem Human Resource Information System (HRIS) on premise menuju Cloud-based HRIS. Jelaskan perbedaan mendasar antara keduanya, dan analisis dampak strategis apa yang ditimbulkan oleh pergeseran ini bagi peran manajer SDM (dari yang bersifat administratif menjadi strategis)!

2. Dengan adanya cloud computing, konsep boundaryless organization (organisasi tanpa batas) menjadi semakin mudah diwujudkan, di mana karyawan dapat bekerja dari mana saja (distributed workforce). Bagaimana kondisi ini mempengaruhi desain job description (uraian jabatan) dan standar evaluasi kinerja karyawan yang selama ini berfokus pada kehadiran fisik dan jam kerja?

Sub-Topik 2: Rekrutmen, Seleksi, dan Onboarding
3. Penggunaan Cloud computing memungkinkan perusahaan untuk melakukan rekrutmen talenta global secara virtual. Identifikasikan setidaknya tiga tantangan utama bagi tim HRD dalam melakukan seleksi dan onboarding karyawan secara virtual melalui platform cloud, serta berikan solusi strategis untuk mengatasi setiap tantangan tersebut!

Sub-Topik 3: Pengembangan SDM (Training & Development)
4. Cloud computing mendukung terwujudnya e-learning dan Learning Management System (LMS) berbasis awan. Jelaskan bagaimana teknologi ini dapat mendukung program upskilling dan reskilling bagi karyawan. Selain itu, rumuskan indikator apa saja yang dapat digunakan oleh manajemen SDM untuk mengukur keberhasilan program training berbasis cloud tersebut (bukan hanya mengukur tingkat penyelesaian online course-nya saja).

Sub-Topik 4: Keamanan Data dan Privasi Karyawan
5. Data kepegawaian (seperti gaji, riwayat kesehatan, penilaian kinerja, dan data pribadi) merupakan aset yang sangat sensitif. Ketika seluruh data ini disimpan dalam cloud, risiko kebocoran data (data breach) menjadi nyata. Diskusikan apa saja tanggung jawab etis dan legal departemen SDM dalam menjaga kerahasiaan data karyawan di era cloud computing, serta bagaimana kolaborasi yang harus dibangun antara tim HRD dan tim IT!

Sub-Topik 5: Change Management (Manajemen Perubahan)
6. Migrasi sistem pengelolaan SDM dari cara konvensional (misalnya: absensi fingerprint, penggajian menggunakan spreadsheet) ke platform Cloud computing sering kali mendapat resistensi (penolakan) dari karyawan, terutama yang kurang melek teknologi (digital literacy). Sebagai seorang Manajer SDM, rancanglah strategi change management yang komprehensif untuk memastikan transisi ini berjalan lancar dan diterima oleh seluruh lini karyawan!

Sub-Topik 6: Pengambilan Keputusan Berbasis Data (HR Analytics)
7. Sistem HR berbasis cloud mampu mengumpulkan data dalam jumlah besar (Big Data) mengenai perilaku karyawan, tingkat turnover, hingga produktivitas. Jelaskan bagaimana HRD dapat memanfaatkan HR Analytics dari data cloud tersebut untuk melakukan predictive analysis (analisis prediktif), khususnya dalam upaya retensi karyawan (mencegah karyawan resign)?

JAWABAN
1. On Premise HRIS di kembangkan dan di install oleh perusahaan sendiri dan biasanya memerlukan tim IT sendiri yang bisa memberikan kontrol penuh. sedangkan Cloud Based HRIS diakses via internet dan dikelola vendor dengan sistem bayar berlangganan (SaaS).
Sumber : https://www.talenta.co/blog/aplikasi-hris-berbasis-cloud-dengan-on-premise/

2. Uraian jabatan menekankan kemampuan kolaborasi virtual, komunikasi digital, serta penguasaan teknologi. Selain itu, job description juga harus mencantumkan kemampuan bekerja mandiri, manajemen waktu, dan koordinasi lintas wilayah. Standar evaluasi kinerja mengalami perubahan signifikan. Pada distributed workforce penilaian harus berbasis hasil kerja (performance-based). Perusahaan perlu menggunakan indikator seperti produktivitas, kualitas output, pencapaian target, serta kontribusi terhadap tim. Evaluasi juga dapat memanfaatkan data aktivitas dari sistem cloud seperti penyelesaian tugas, kolaborasi tim, dan keterlibatan proyek. Dengan demikian, fokus penilaian kinerja bergeser dari “time-based” menjadi “result-based”. Hal ini meningkatkan objektivitas penilaian dan mendorong budaya kerja yang lebih fleksibel namun tetap produktif.
Sumber : 
-https://www.linkedin.com/pulse/part-3-advantages-organizational-structure-dan-rector-ms-cem
-https://getmarlee.com/blog/boundary-less-organizations

3. Tiga tantangan utama bagi HRD yaitu : kesulitan dalam menilai keaslian kemampuan kandidat, perbedaan zona waktu dan budaya kerja, dan kesulitan integrasi karyawan ke dalam perusahaan. 
Solusi strategis untuk tantangan ini terdiri dari : Solusinya adalah menggunakan tes kompetensi online, simulasi kerja, menyediakan panduan onboarding multibahasa agar kandidat dapat menyesuaikan diri, menyediakan materi pelatihan, mentor virtual, serta sesi orientasi online. Selain itu, HRD dapat membuat program buddy system untuk membantu karyawan baru beradaptasi.
Sumber : https://www.talenta.co/blog/tantangan-merekrut-karyawan-secara-online/

4. Perusahaan dapat menyediakan materi pelatihan digital, webinar, video pembelajaran, serta simulasi interaktif. Sistem ini juga memungkinkan pembelajaran mandiri (self-paced learning) sehingga karyawan dapat meningkatkan keterampilan secara berkelanjutan. Indikator keberhasilan program training berbasis cloud antara lain peningkatan kinerja karyawan setelah pelatihan, peningkatan produktivitas kerja, serta penerapan keterampilan baru dalam pekerjaan. Selain itu, manajemen dapat mengukur tingkat retensi pengetahuan melalui evaluasi pasca pelatihan.
Sumber : https://www.learningbank.io/learning-management-system

5. Secara legal, HR harus mematuhi regulasi perlindungan data pribadi. Hal ini mencakup kebijakan keamanan data, pengendalian akses, serta prosedur penanganan kebocoran data. HR dan IT juga harus bekerja sama dalam pelatihan keamanan data bagi karyawan, audit sistem secara berkala, serta pengelolaan hak akses pengguna. Dengan begitu, keamanan data karyawan dalam cloud dapat terjaga secara optimal.
Sumber : 
-https://greatdayhr.com/id-id/blog/uu-pdp-dan-pengelolaan-data-karyawan/
-https://www.slideshare.net/slideshow/topik-12-keamanan-data-dan-etika-dalam-hr-analytics/276713585


6. Langkah pertama adalah komunikasi perubahan secara jelas. Manajer SDM harus menjelaskan manfaat cloud seperti kemudahan akses, efisiensi waktu, dan pengurangan pekerjaan manual. 

Langkah kedua adalah pelatihan dan peningkatan digital literacy. HR perlu menyediakan pelatihan penggunaan sistem cloud secara bertahap. Pelatihan dapat berupa workshop, video tutorial, serta panduan penggunaan sederhana.

Langkah ketiga adalah implementasi bertahap. Perusahaan tidak langsung mengganti seluruh sistem, tetapi memulai dari modul tertentu seperti absensi online. 

Langkah keempat adalah menyediakan dukungan teknis. HR dan IT harus menyediakan helpdesk untuk membantu karyawan yang mengalami kesulitan. Dukungan ini meningkatkan kepercayaan terhadap sistem baru.

Langkah terakhir adalah evaluasi dan feedback. HR harus mengumpulkan masukan dari karyawan untuk perbaikan sistem. 
Sumber : https://www.staffany.id/blog/langkah-langkah-perencanaan-sdm/

7. HR dapat mengidentifikasi pola karyawan yang berpotensi akan resign, misalnya penurunan kinerja, tingkat absensi tinggi, atau rendahnya keterlibatan dalam pelatihan.
Selain itu, HR dapat menganalisis faktor penyebab turnover seperti beban kerja, kepuasan kerja, atau kurangnya pengembangan karir. Contoh strategi retensi berbasis analitik meliputi pemberian pelatihan tambahan, promosi karir, penyesuaian beban kerja, atau peningkatan kompensasi. Dengan predictive analytics, HR tidak lagi bersifat reaktif tetapi proaktif dalam mempertahankan talenta.
Sumber : 
-https://blogs.vorecol.com/blog-how-can-hr-analytics-tools-help-in-reducing-employee-turnover-rates-effectively-148963#:~:text=In%20conclusion,%20HR%20analytics%20tools,aspirations,%20significantly%20reducing%20turnover%20rates.
-https://www.talenta.co/blog/hrd-siap-menghadapi-digital-dengan-teknologi-big-data/

Sunday, April 5, 2026

Tugas Cloud Computing Pertemuan 2

Nama : Quinn Abrar Athallah Sentanu
Kelas : 15.6A.11
NIM : 15230637

Soal:
1. Dalam Evolusi Teknologi yang terjadi saat ini, Jelaskan bagaimana evolusi paradigma komputasi dari era Mainframe Client-Server Grid Computing hingga Cloud Computing.

2. Apa perbedaan mendasar dari sisi pengelolaan infrastruktur pada setiap eranya?

3. Studi Kasus Implementasi - Sektor Perbankan: Bank ABC saat ini masih menggunakan Data Center sendiri (On-Premise). Mereka ingin melakukan digitalisasi layanan (mobile banking) yang membutuhkan skala yang sangat fleksibel, namun di sisi lain mereka sangat dikekang oleh regulasi OJK yang mengharuskan data sensitif nasabah tetap berada di dalam negeri dan keamanannya terjaga. Sebagai Cloud Architect, strategi Cloud Deployment (Public, Private, Hybrid, Multi-Cloud) seperti apa yang akan Anda rekomendasikan kepada Bank ABC? Jelaskan alasan dan bagaimana skema kerjanya!

4. Strategi Migrasi (The 6 R's of Migration): Dalam melakukan migrasi ke cloud, terdapat beberapa strategi yang umum digunakan (antara lain: Rehost, Replatform, Refactor, Repurchase). Jelaskan perbedaan keempat strategi tersebut, dan berikan contoh kasus kapan sebuah perusahaan sebaiknya menggunakan strategi Refactor dibanding Rehost.


JAWABAN
1. Dimulai pada era Mainframe, pada tahun 1950-an. Komputer Mainframe, yang berukuran besar dan mahal, digunakan oleh perusahaan besar dan institusi pemerintah untuk pemrosesan data skala besar. Pusat data yang dilengkapi dengan mainframe ini menjadi pusat pengolahan data yang dominan. Lalu lanjut ke era client-server yang muncul pada tahun 1980-an dan 1990-an. Pada era ini Client-Server membawa konsep komputasi terdistribusi. Komputer pribadi (client) menjadi lebih kuat dan mampu menjalankan aplikasi dengan relatif mandiri. Sementara itu, server sentral tetap digunakan untuk menyimpan dan mengelola data yang dibutuhkan oleh klien. Dan selanjutnya yaitu era cloud computing, yang dimulai sekitar tahun 2000-an, menghadirkan perubahan paradigmatik dalam cara kita menggunakan komputer. Cloud computing menggabungkan kekuatan komputasi dan penyimpanan yang besar dengan aksesibilitas yang luas melalui internet. Layanan cloud seperti Amazon Web Services (AWS), Microsoft Azure, dan Google Cloud menjadi pemimpin dalam menyediakan infrastruktur dan platform sebagai layanan (IaaS dan PaaS).
Sumber : https://blog.unmaha.ac.id/evolusi-cloud-computing-dari-mainframe-ke-edge-computing/

2. Pada era Mainframe infrastrukturnya dikelola secara terpusat oleh sebuah organisasi, pada era client-server karena komputer pribadi semakin kuat maka infrastrukturnya mulai dibagi dan organisasi tetap menggunakan server sentral untuk menyimpan dan mengolah data yang dibutuhkan client, dan pada era cloud computing infrastrukturnya sebagian besar dikelola oleh penyedia layanan dan client tidak perlu mengelola perangkat keras fisik lagi karena semua sudah dikembangkan dan disediakan oleh penyedia layanan melalui Internet.
Sumber : https://journal.budiluhur.ac.id/index.php/telematika/article/download/165/159

3. Strategi yang digunakan adalah Hybrid Cloud karena Hybrid Cloud menggabungkan sistem penggunaan Private Cloud dengan Public Cloud sehingga mendapatkan fleksibilitas dari dua sistem tersebut. Bank ABC dapat menyimpan data sensitif pada On-Premise untuk memenuhi regulasi OJK dan layanan mobile banking bisa menggunakan Public Cloud untuk menjaga efisiensi dan skalabilitas tinggi sehingga bisa menyesuaikan jumlah pengguna secara dinamis. Skema yang digunakan yaitu dengan memisahkan komponen sistem. Data inti seperti data sensitif nasabah, sistem autentikasi, dan transaksi utama disimpan pada On-Premise dan layanan mobile banking, web server, API gateway, layanan frontend ditempatkan pada public cloud.
Sumber : https://www.xlsmart.co.id/bisnis/id/insights/article/keuntungan-hybrid-cloud/

4.
-Rehost adalah strategi yang memindahkan server dan aplikasi dari infrastruktur On-Premise ke cloud tanpa perubahan besar.
-Replatform adalah strategi yang merupakan variasi dari Rehost, yaitu modifikasi kecil pada aplikasi agar bisa memanfaatkan fitur Cloud.
-Refactor adalah strategi yang melibatkan penulisan ulang aplikasi agar menjadi cloud-native. Aplikasi di program ulang agar arsitekturnya bisa menjadi serverless.
-Repurchase adalah Strategi yang menggantikan aplikasi on-premise dengan perangkat lunak berbasis cloud (SaaS). Organisasi tidak memigrasikan aplikasi lama, tetapi beralih ke solusi baru yang sudah tersedia di cloud.
Perusahaan sebaiknya menggunakan Refactor dibanding Rehost jika mereka membutuhkan sistem yang memiliki skalabilitas yang tinggi, membutuhkan performa yang baik, sekaligus integrasi dengan cloud. Contohnya aplikasi e-commerce yang sering mengalami lonjakan. Dengan Refactor, aplikasi bisa di program untuk menangani lonjakan pengguna secara otomatis dengan mengubah arsitekturnya menjadi microservice. Karena jika perusahaan hanya menggunakan Rehost maka aplikasinya masih memiliki keterbatasan yang sama dengan sistem lama.
Sumber : https://blogs.opentext.com/the-6-rs-strategies-for-cloud-migration/


Tugas Cloud Computing Pertemuan 1

Nama : Quinn Abrar Athallah Sentanu
Kelas : 15.6A.11
NIM : 15230637

Soal :
1. Jelaskan, apa yang dimaksud dengan :
a. Cloud Computing
b. IaaS
c. PaaS
d. SaaS

2. Jelaskan perbedaan utama antara IaaS, PaaS, dan SaaS dari segi tingkat kendali (control) yang diberikan kepada pengguna dan contoh penggunaannya dalam kehidupan sehari-hari!

3. Apa yang dimaksud dengan model Hybrid Cloud? Berikan satu contoh skenario nyata mengapa sebuah perusahaan besar memilih model ini dibandingkan hanya menggunakan Public Cloud atau Private Cloud.

4. Sebutkan dan jelaskan minimal 3 (tiga) risiko atau tantangan utama yang mungkin dihadapi oleh sebuah perusahaan ketika mereka melakukan migrasi sistem ke cloud computing.


JAWABAN
1.
a. Cloud computing menyediakan sumber daya komputasi (seperti penyimpanan dan infrastruktur) sesuai permintaan, sebagai layanan melalui internet. Dengan sistem seperti ini, pengguna individu dan bisnis tidak perlu lagi mengelola sendiri resource fisik mereka dan hanya membayar layanan sesuai penggunaan.
Sumber : https://cloud.google.com/learn/what-is-cloud-computing?hl=id

b. IaaS, atau Infrastructure as a Service, adalah model cloud computing yang menyediakan akses on-demand ke sumber daya komputasi seperti server, penyimpanan, jaringan, dan virtualisasi.
Sumber : https://cloud.google.com/learn/what-is-iaas?hl=id

c. PaaS, atau Platform as a Service, adalah lingkungan cloud lengkap yang mencakup semua hal yang diperlukan pengembang untuk membangun, menjalankan, dan mengelola aplikasi, mulai dari server dan sistem operasi hingga semua jaringan, penyimpanan, middleware, alat, dan lain-lain.
Sumber : https://cloud.google.com/learn/what-is-paas?hl=id

d. SaaS adalah model penyediaan perangkat lunak berbasis cloud di mana individu atau organisasi berlangganan aplikasi alih-alih membeli dan menginstalnya secara lokal. Pelanggan mengakses perangkat lunak melalui internet, biasanya melalui browser web, sementara penyedia layanan cloud mengelola infrastruktur, keamanan, pemeliharaan, dan pembaruan yang mendasar.
Sumber : https://azure.microsoft.com/id-id/resources/cloud-computing-dictionary/what-is-saas

2. Perbedaan antara IaaS, PaaS, dan SaaS dalam segi tingkat kendali yaitu semakin ke arah SaaS maka tingkat kendali pengguna semakin minim karena sebagian besar dikelola oleh penyedia layanan cloud. Contoh Penggunaanya dalam kehidupan sehari-hari seperti menyewa server virtual untuk membangun aplikasi, layanan menulis dokumen seperti Google Docs, dan sistem penyimpanan Cloud.

Diagram dibawah ini menunjukan perbedaan antara IaaS, PaaS, SaaS :



Sumber : https://cloud.google.com/learn/paas-vs-iaas-vs-saas?hl=id

3. Hybrid cloud adalah lingkungan komputasi campuran tempat aplikasi dijalankan menggunakan kombinasi komputasi, penyimpanan, dan layanan di berbagai lingkungan—cloud publik dan cloud pribadi, termasuk pusat data lokal atau lokasi “edge”. Pendekatan hybrid cloud computing banyak diadopsi karena saat ini hampir tidak ada organisasi yang sepenuhnya bergantung pada satu cloud publik.

Sebuah perusahaan besar cenderung memilih model Hybrid Cloud karena Hybrid Cloud mampu menggabungkan keuntungan dari Public dan Private cloud serta memiliki tingkat keandalan yang tinggi untuk mendistribusikan layanan mereka sehingga bisa mencapai skalabilitas public cloud sambil tetap melindungi data pribadi yang sensitif
Sumber :
https://cloud.google.com/learn/what-is-hybrid-cloud?hl=id#hybrid-cloud-defined
https://www.telkomsigma.co.id/id/news/perbedaan-public-private-hybrid-cloud/


4. Walaupun migrasi ke sistem Cloud Computing bisa meningkatkan efisiensi, ada beberapa Tantangan utamanya yaitu:
-Keterbatasan sumber daya manusia dan keahlian teknis.
Implementasi sistem Cloud Computing membutuhkan tenaga kerja yang handal namun banyak perusahaan masih mengalami kesulitan karena kurangnya keahlian teknisi Cloud. Para CEO khawatir tentang ketersediaan talenta yang tepat. Tanpa tim yang berpengalaman, migrasi bisa terhambat bahkan gagal.
-Lonjakan biaya operasional yang tidak terkendali.
Biaya untuk merawat sistem Cloud Computing memerlukan biaya yang mahal. Jika tidak memiliki strategi pengelolaan yang tepat, biaya justru bisa membengkak. Banyak perusahaan yang masih kesulitan untuk migrasi ke sistem Cloud Computing karena terhalang biaya.
-Resiko keamanan dan kepatuhan data.
Salah satu kekhawatiran dari migrasi ke sistem Cloud Computing adalah data pribadi yang bersifat sensitif. Kebocoran data dan akses yang tidak sah adalah beberapa faktor mengapa perusahaan masih ragu untuk migrasi.
Sumber : https://ioh.co.id/portal/id/iohcorparticledetail/tantangan-implementasi-cloud-computing-di-perusahaan-dan-cara-mengatasinya?_id=20015390#:~:text=A:%20Tantangan%20utama%20meliputi%20keterbatasan,kompatibel%20dengan%20teknologi%20cloud%20modern.

Tugas Cloud Computing Pertemuan 4

Nama : Quinn Abrar Athallah Sentanu Kelas : 15.6A.11 NIM : 15230637 Soal :  Sub-Topik 1: Perubahan Paradigma dan Strategi MSDM 1. Cloud comp...